IMG_2539-pilih-AANAK DAN KETAHANAN TERHADAP STRES*)
Wahyuni Kristinawati, M.Si., Psikolog

Apakah anak Anda mudah stress? Beberapa anak ditemukan memiliki kerentanan untuk menghadapi perubahan atau tekanan yang mereka hadapi. Namun tidak jarang pula, orang tua atau guru mengeluhkan anak-anak memerlukan penyesuaian diri yang lama terhadap situasi baru, atau anak yang trauma dengan pengalaman negative, seperti mendapat kehilangan sahabat, pindah rumah, nyaris tenggelam di kolam renang, menjadi korban bencana alam seperti gempa, dan sebagainya.

Apakah Arti Ketahanan Terhadap Stres?
Sumber stress, atau stressor, merupakan segala kondisi yang potensial memunculkan stress. Tingkat stress yang diakibatkan pada masing-masing peristiwa (stressor) bersifat sangat individual. Misalnya, anak yang orang tuanya bercerai memiliki reaksi yang berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain. Ada yang cenderung tidak terlalu terganggu dan tetap mampu menjalankan aktivitas rutin sehari-hari,

ada pula yang mengalami gangguan tidur, sulit makan, atau mendapat nilai jelek di sekolah. Hal ini terjadi karena masing-masing anak memiliki perbedaan pemaknaan terhadap situasi yang terjadi di hadapannya.

Selain itu, reaksi orang dewasa di sekitar anak merupakan faktor yang tidak dapat dilepaskan dari reaksi anak itu sendiri. Seorang ibu yang tetap memberi perhatian yang memadai setelah terjadinya perceraian tentu akan menghambat stress yang lebih besar daripada ibu yang mengalami gangguan emosi yang cukup hebat.
Anak yang memiliki ketahanan stress (disebut juga resiliensi) adalah anak yang dapat tetap menjalankan fungsinya dengan baik meskipun ketika berada dalam tekanan, situasi sulit atau pengalaman traumatis. Maksud dari ‘menjalankan fungsinya’ adalah anak tetap mampu mengatur diri dan menjalankan rutinitas sehari-hari dan berkembang sebagaimana tugas perkembangannya dan tidak memunculkan gejala-gejala yang tidak wajar.

Berbagai Faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Anak terhadap Stres
Berbagai hal dapat memberi kontribusi terhadap ketahanan stress pada anak (dan juga pada orang dewasa). Seorang anak yang tahan terhadap stress umumnya adalah mereka yang memiliki keluarga yang hangat dan ank-anak ini merasa memiliki orang tua yang siap memberi dukungan. Jika Anda seorang ayah yang memiliki anak yang kehilangan sahabat, misal karena pindah rumah, hendaknya Anda menunjukkan pada anak bahwa ia boleh menangis di hadapan Anda dan tidak dihukum meskipun ia menjadi kehilangan nafsu makan. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak yang memiliki ketahanan tinggi terhadap stress cenderung memiliki hubungan yang baik dan ikatan emosi yang kuat dengan salah satu orang tuanya. Jika tidak, sebaiknya anak dekat dengan pengasuh, atau orang dewasa lain yang cukup kompeten menghadapi anak.
Tingginya kecerdasan ternyata juga berkait dengan tahan tidaknya seorang anak terhadap stress yang dialami. Pemrosesan informasi yang efektif bisa jadi menolong anak ini untuk mencari alternatif pemecahan masalah, mengatur perilaku, melindungi diri sendiri, dan belajar dari pengalaman.
Pengaruh lain yang juga sering protective factor adalah minimalnya factor risiko, dan pengalaman penyeimbang. Semakin sedikit faktor risiko yang dialami anak, semakin besar kemampuan anak untuk mengatasi stres yang dihadapi. Faktor risiko ini antara lain : perceraian orang tua, pengalaman tinggal di panti asuhan, ayah/ibu pelaku kriminal, ayah/ibu mengalami gangguan emosi. Sebaliknya, pengalaman yang positif akan menetralisir efek negative dari pengalaman traumatis anak. Guru yang ramah dan menyenangkan, lingkungan sekolah yang membuat anak nyaman, prestasi yang baik, atau penyaluran hobi di bidang musik, olah raga, atau seni, merupakan kompensasi yang efektif untuk membentuk anak dengan resiliensi yang tinggi.

Membentuk Anak dengan Ketahanan Tinggi terhadap Stres
Sejak anak masih kecil, orang tua dapat mendidik anak belajar menghadapi tekanan hidup. Kesempatan mengemukakan pendapat, meskipun pada usia dini, dapat menjadi awal yang baik. Di samping hubungan orang tua dengan anak menjadi lebih baik, hal ini juga akan mengembangkan kemampuan berpikirnya. Jika anak berkelahi dengan teman sepermainannya, jangan buru-buru membela dia. Akan lebih bermanfaat mengajak anak memikirkan akibat apa saja yang dapat terjadi jika ia berkelahi. Biasakanlah anak untuk meminta maaf dan memaafkan. Anak dapat dilatih menyalurkan emosi negatif ke hal-hal positif. Akan lebih baik untuk meminimalkan factor risiko seperti disebutkan diatas. Tetapi jika tidak mungkin, meningkatkan factor penyeimbang merupakan ide cemerlang. Eksplorasi bakat dan minat anak, orang tua hendaklah lebih menghargai proses dan usaha anak daripada prestasi yang dicapainya. Anak yang memiliki ketahanan tinggi terhadap stress memiliki kepribadian yang ramah dan biasanya adalah mereka yang easygoing. Ajaklah anak untuk lebih menikmati kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Umumnya anak-anak ini juga kreatif (sehingga dapat menemukan sumber kebahagiaan di tempat lain secara positif), percaya diri (ia meyakini akan melewati masa sulit yang dihadapi), dan memiliki motivasi yang kuat (membuatnya terus bergairah menjalani hidup).
Perkembangan teknologi dan kemajuan jaman akan membawa konsekuensi munculnya stressor yang lebih majemuk dan kompleks. Ketahanan menghadapi stress akan semakin diperlukan di masa mendatang. Ingat, semakin dini kita mengembangkannya, semakin menetap dan semakin mudah pembentukannya.

*) Artikel ini telah dimuat di Koran SINDO pada tahun 2007